AYO DUKUNG PENERAPAN SYARIAT ISLAM DI BUMI INDONESIA TERCINTA

Kamis, 12 Agustus 2010

Untuk Guruku Yang Tak Tahu Bahwa Aku Muridnya

Kami kelas satu MTs ketika beliau (Ustadz Abu Bakar Ba’asyir) ditangkap paksa dari pengobatannya di PKU Muhammadiyah. Ketika itu pagi selepas sholat shubuh terjadi keributan di komplek kami, beberapa kakak kelas tengah membicarakan tentang sekelompok polisi yang mengepung tempat beliau dirawat.

Kami yang ketika itu masih menjadi santri paling junior hanya ikut bingung. Beberapa ustadz mengumpulkan kami dalam masjid dan mengajak kami membaca Al-Quran, sementara diluar masjid barisan santri-santri senior telah tertata. Nasib kami masih ditentukan dalam rapat, apakah akan diterjunkan ikut bersama barisan untuk mengamankan guru besar kami, ataukah untuk alasan keamanan kami harus menjadi penjaga komplek selama senior kami bertempur.

Sungguh, kami memohon kepada Allah, kemudian merengek kepada ustadz untuk diijinkan ikut dalam barisan bersama para senior kami. Namun kami masih terlalu belia untuk harus berhadapan dengan popor senjata laras panjang, water canon dan tameng polisi anti huru-hara.

Berjam-jam kami terduduk di depan pesantren menunggu kabar yang tak pasti. Seorang ustadz yang rutin setiap pekan memberikan kami kajian tafsir ba’da shubuh itu sedikit demi sedikit mendapat ruang besar dalam hati kami. Kami sayangi beliau karena Allah, dan kami pun yakin beliau menyayangi kami karenaNya. Allah menjadi saksi hati kami yang telah menyimpan perasaan yang dalam.

Beberapa kakak kelas mulai terlihat dari ujung jalan dengan muka yang lemas. Kami tahu jawabannya, pasti guru kami telah diambil. Tak berani kami bertanya bagaimana kejadian tadi, sabar kami menunggu kakak kelas kami dalam sebuah lingkaran, dan dia berada di tengah-tengah kami. Akhirnya dia pun bercerita akan hebatnya pertempuran tadi. Rasa kami bercampur aduk, sedih karena tidak bisa ikut membela beliau; terlebih kami menyesal disetiap kajian ba’da shubuh yang beliau ampu selalu kami sambut dengan tidur dan kantuk. Kami baru sadar, kami telah mensia-siakan seorang hebat yang menyayangi kami.

Beberapa bulan kami diijinkan Allah untuk mengenali beliau, dan kemudian beberapa tahun kami dipisahkanNya dengan manusia besar kebanggaan kami. Qoddarallah maa syaa’a bihi fa’al

Setelah sekian tahun menunggu, kabar bahwa beliau akan dibebaskan telah kami dengar. Sambutan tengah kami siapkan, komplek pesantren kami bersihkan. Spanduk telah dibentangkan, dan juga sambutan lainnya. Namun, janjinya kosong. Muncul lah lagi kejadian salemba.

Dan sekali lagi, bukan kami yang diijinkan ikut dalam kejadian tersebut. Padahal kami sudah cukup umur. Kami bertanya, kapan kami diberikan waktu untuk menunjukkan rasa sayang kami??

Waktunya tiba. Ustadz Abu terbebas dari segala tuduhan. Saat itulah, saat kami berada dalam kondisi fit 100%. Disaat jasmani dan rohani kami telah berada pada puncaknya. Yaitu saat kami kelas 1 Madrasah Aliyah, dan juga berbarengan dengan bergabungnya kami dalam kelompok pecinta alam. Suatu kesatuan barisan elit yang dimiliki pesantren yang dipakai dalam setiap kegiatan penting. Menggunakan seragam khusus, dengan peran yang besar, juga ditempatkan pada posisi strategis dalam mengatur massa.

Walau hanya itu yang bisa kami perbuat, kami berjanji akan membela setiap langkah yang beliau tempuh untuk islam. Beliau bukanlah orang asing bagi kami, kami mengenali beliau, kami lebih tahu tentang beliau dibanding media yang terus memojokkannya. Beliaulah guru kami, beliaulah kebanggaan kami.

Tak ada suatu istimewa yang keluar dari mulut beliau, melainkan hanya kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” dan tidak ada sekutu baginya. Wala’ wal baro’ adalah lagu beliau disetiap memberikan ceramah, tak akan pernah kami lupa.

Nuhibbukum fillah… Allah yahfadzukum…

Ummul quro university. Aziziyah, Makkah, 28-8-1431 H

http://rafiqjauhary.wordpress.com/2010/08/09/untuk-guruku-yang-tak-tahu-bahwa-aku-muridnya/